Jogja! Sudah lama saya merencanakan pergi ke Yogyakarta untuk sekadar jalan-jalan. Ini bukan pertama kalinya ke Jogja. Tahun 2017 pernah ke sana, bukan untuk wisata, bukan untuk menikmati suasana kota, melainkan kunjungan ke salah satu kampus saat masih SMK.
Sejujurnya waktu itu sama sekali tidak tertarik dengan kegiatannya. Bahkan sampai sekarang pun kurang paham apa tujuannya. Mungkin karena kampus itu memang terasa kurang menarik secara pribadi. Jadi ya, cuma ikut saja karena ditunjuk mewakili sekolah.
Saya nggak sendirian ke Jogja. Penginnya sih grup yang terdiri dari 3 atau 4 orang, tapi karena ya begitulah sibuknya dunia. Jadi cuma dapat 1 teman saja.
Perjalanan ke jogja dari kampung tempat tinggal saya sebenernya nggak terlalu jauh, ada stasiun terdekat, tapi saya memilih yang lebih menantang naik motor ke stasiun Kutoarjo yang ada di Purworejo sebelum langsung ke Jogja. Alasannya demi menghemat budget transportasi menggunakan commuter line yang harganya cuma 8ribu dari Purworejo ke Yogyakarta, tapi ujugnya pulang pergi tetap naik kereta reguler antar kota. Kalau naik motor dari kampung halaman langsung ke jogja butuh waktu sekitar 3 jam. Tapi saya menghindari itu karena alasan keamanan.
Sayangnya hari itu hujan seharian. Saya naik motor berdua dengan teman saya. Sudah baju basah karena mantol merembes, ditambah kecipratan truk tronton. Alhasil kotor semua, untungnya masih tercover mantol 😂
Sampainya di Stasiun Yogyakarta hujan belum reda juga, untungnya nggak deras jadi masih bisa menyusuri jalanan Malioboro sambil mengulur waktu sebentar untuk check in ke penginapan. Oh Malioboro,,, Meski ini bukan pertama kalinya ke Jogja, tapi ini adalah pertama kalinya Saya ke Malioboro. Jalan yang sering disebut orang-orang. Jantungnya kota Yogyakarta. Sulit sih mendeskripsikannya. Satu kata untuk Malioboro "Rame" banget, mungkin waktu itu hari minggu jadi banyak pelancong dari luar kota yang singgah ke sini. Agak kaget juga di sepanjang pinggir Jalan Malioboro deket stasiun banyak ruko yang pegawainya selalu nawarin barang dagangannya kepada setiap orang yang lewat di depannya.
Sebagai orang Jawa, I feel so connected to Jogja, atmosfer yang tenang ditambah aura budaya yang kental, terasa kembali ke akar budaya jawa.
Lelah mondar mandir di Malioboro, hujan makin deras. Situasi pun membingungkan, jadi tidak bisa menuju penginapan dengan jalan kaki. Padahal jaraknya lumayan deket dari Malioboro maupun stasiun Yogyakarta. Cuma beberapa kilometer saja muhehehe. Mau tidak mau ya harus pesen taksi online. Yah, nggak jadi berhemat lagi. Bukannya nggak ada duit, hanya saja terkesan melanggar prinsip-prinsip backpacker hahaha.
Baca Juga: Menjelajahi Candi Prambanan – Trip ke Jogja Part 2
Tidak banyak hal yang bisa dilakukan hari ini dikarenakan hujan. Ketakutan sejak awal yang benar-benar terjadi, padahal hari ini rencananya mau ke Candi Prambanan. Besoknya hari senin, saya sudah riset kecil-kecilan tentang prambanan kalau setiap hari senin ada maintenance candi sehingga pengunjung tidak bisa masuk ke bagian dalam area Candi alias akses terbatas. Siang Itu saya hanya molor kecapean di penginapan sampai sore.
Malam Hari di Malioboro
Mumpung lagi di Jogja dan dekat Malioboro, nggak afdal rasanya kalau tidak menikmati suasana malam Jogja. terutama Malioboro. Suasana malam di sini agak bikin saya syok. Ternyata malam hari di sini sangat ramai seperti ada karnval di sepanjang jalan. Berbeda dengan siang tadi yang agak sepi, padahal hari minggu, mungkin karena hujan orang-orang jadi malas keluar. Saat malam hari, banyak orang yang sekedar jalan-jalan. Kebanyakan dari mereka mungkin wisatawan, tampak dari mereka banyak yang melihat-lihat sekitar, foto-foto dan juga mampir ke tempat wisata. Pedagang pinggir jalan juga makin banyak.
Beberapa tempat yang bisa kalian kunjungi di Malioboro adalah Teras Malioboro kalau kalian suka kulineran, Benteng Vredeburg, Titik Nol Kilometer Yogyakarta, dan Keraton Yogyakarta.
![]() |
| Museum Vredeburg |
![]() |
| Titik Nol Kilometer Yogyakarta |




Komentarnya dong. Kamu juga bisa komentar anonymously.