Setelah agak kecewa di hari pertama nggak bisa ke Candi Prambanan karena hujan, saya mencoba peruntungan pada hari Senin di hari kedua. Pagi-pagi sekali di ranjang hotel, rasa khawatir akan cuaca buruk pun tak terelakkan. Beruntung, cuaca pagi itu sangat cerah sesuai harapan. Saya intip keluar dari balik kaca jendela. Kemudian bersiap-siap dan packing baju pagi itu juga, sekalian checkout dari hotel karena sore hari harus sudah pulang ke Kebumen.
Bagian dari: Short Trip ke Yogyakarta: Serunya di Malioboro Part 1
Setelah check out, pagi-pagi sekitar jam 7 kami keluar dari hotel sekaligus mencari sarapan di pinggir jalan. Sialnya, di dekat hotel hampir nggak ada warung makan. Warung nasi padang yang biasanya ada di 1000 tempat pun nggak bisa saya temukan. Sekali lagi, beruntungnya ada sebuah warung nasi yang baru buka di pinggir trotoar. Saya udah nggak sabar lagi mau mbadok (makan) karena laper. Pagi-pagi, nasi hangat dengan lauk ayam kari atau apa saya kurang tahu namanya, ditambah kerupuk kriwil. Nikmat sekali bung. Sementara itu, datang ibu-ibu membawa wadah besar berisi masakan kikil. Rupa-rupanya warung ini belum tuntas menampilkan semua hidangannya. Saya yang melihat bapak-bapak lain menyerbu masakan yang baru datang itu pun jadi ikut menyerbu untuk menambah lauk lalu disusul teman saya yang ikut-ikutan juga, gak jelas.
 |
Wujud sarapannya
|
 |
mantap pokoknya. (sebelum puasa) |
 |
| si mbah yang jualan |
Tujuan selanjutnya adalah tentu saja Candi Prambanan. Namun sebelum ke sana, kita perlu ke Stasiun Tugu Yogyakarta untuk akses Commuter Line/KRL. Ini alasan saya juga kenapa check out dari hotel pagi-pagi karena menyesuaikan jadwal commuter line agar bisa ke candi di pagi sampai siang hari. Lalu pulang ke Kebumen usai dari sana. Jarak dari warung makan tadi menuju ke Stasiun Tugu lumayan dekat hanya 1km-an, cukup dengan jalan kaki saja sambil menikmati suasana pagi kota Jogja.
Sesampainya di stasiun Jogja kami masuk ke gate KRL. Teman saya yang di depan langsung main tap tap pakai QR Code tiket KRL di Gate, saya pun baru ngeh tiket saya sudah dipesankan di HP teman saya. Alhasil kami main oper-operan Hp untuk masuk ke gate lalu menunggu sembari KRL datang. Pagi itu penumpangnya lumayan padat. Saya yang baru pertama kali akan naik KRL merasa syok karena harus berebutan tempat duduk, untungnya dapat. Pemberhentian kami adalah stasiun brambanan yang sudah masuk wilayah Klaten, Jawa Tengah tetapi komplek Candi Prambanan sendiri ikut wilayah administrasi Yogyakarta.
Dari stasiun brambanan ke Candi jaraknya lumayan dekat, kurang lebih 1km, Kalau di stasiun ada yang menawari ojek, mending tolak saja jika ingin berhemat. Tapi, kalau kalian ingin berbagi dengan cara menyewa jasa mereka boleh-boleh saja. Sampai di pintu masuk wisata candi kami di arahkan oleh petugas pergi ke loket, sebelum itu kita akan dijelaskan seputar candi oleh petugas lain melalui papan informasi denah candi prambanan. Tidak lupa juga penyampaian informasi pemeliharaan candi di hari senin yang mengharuskan wisatawan nggak bisa masuk ke dalam kompleks candi. Jadi pengunjung hanya akan keliling dari luar candi.
Setelah selesai mendengarkan penjelasan dari petugas, kami langsung menuju loket untuk mendapatkan tiket masuk yang harganya Rp50.000. Tapi tidak dengan teman saya, dia hanya membayar setengahnya saja jadi Rp25.000 karena masih punya status mahasiswa. Sialan memang. Kemudian, pengunjung menuju ke pintu masuk yang memiliki alat Walk Through Metal Detector. Deg-degan, berasa jadi ter*ris.
Saat mendekat ke arah candi kita akan disuguhkan pemandangan megah dari kejauhan yang menjulang tinggi. Oh man,,, pemandangan yang eksotis dan mengagumkan. Nggak sabar ingin mendekat. Setelah berfoto dari kejauhan, waktunya eksplorasi dari dekat. Nuansa magis dan kemegahan bangunan Candi Prambanan yang menjulang tinggi benar-benar membuat saya takjub. Susunan batu dan reliefnya membuat siapa pun seakan terbawa membayangkan era klasik kejayaan Candi Prambanan. Hanya saja waktu saya ke sini cuacanya sangat panas. Agak kurang enjoy melihat-lihat bangunan candi. Walau begitu, sama sekali tidak membuat saya gentar dan selelalu terpesona dengan kemegahan candi tersebut.
Komentarnya dong. Kamu juga bisa komentar anonymously 🕵🏻♂️