Udah lama banget sebenarnya saya pengin nulis tentang salah satu makanan khas yang terkenal banget di daerah saya. Selain kaya akan wisata pantai dan bukit yang cantik, Kebumen juga punya banyak makanan tradisional yang nggak kalah menarik untuk dibahas.
Salah satunya adalah lanting.
Buat yang belum tahu, lanting adalah makanan ringan yang terbuat dari singkong dan dimasak dengan cara digoreng. Bentuknya kecil-kecil, ringan, renyah, dan bikin nagih. Awalnya cuma mau makan satu. Tahu-tahu tinggal remah-remahnya. 😆
Lanting bukan sekadar cemilan gurih biasa. Proses pembuatannya yang masih tradisional bikin lanting ini punya tekstur yang renyah dan gurih khas. Dulu, lanting cuma identik dengan rasa original (bawang) dan gurih asin. Rasa bawang ini yang bikin lanting rasanya beuhh khas dan gurih. Seiring perkembangan zaman, banyak generasi baru yang memodifikasi rasa lanting ini dengan bumbu yang lebih beragam, seperti rasa keju, balado, pedas, dll.
| Pengupasan singkong bahan baku lanting. gambar oleh SBudiMasdar |
![]() |
| Lanting Kebumen Sumber: tagar.id |
Sebagai rakyat Kebumen tercinta yang jalannya banyak jeglongan sewu (jalan seribu lubang) hihihi, Saya akrab banget sama makanan ini. Sejak kecil saya sering membantu orang tua Saya membuat angka 8 dari lanting mentah. Lanting khas Kebumen berbentuk angka 8 yang dibuat manual menggunakan tangan dengan cara "dibundel" makanya orang sini biasa menyebut "bundel" untuk pekerjaan membentuk lanting mentah yang masih lurus dan lengket jadi angka 8. Sementara itu, lanting mentah yang belum dibentuk disebut ewed. Hahaha unik nggak?
| Proses membentuk lanting mentah menjadi angka 8 alias bundel. sumber: Kebumen Ekspress |
Sentral produksi lanting yang terkenal ada di Desa Lemahduwur, Kecamatan Kuwarasan. Dulu di daerah sini banyak sekali rumah yang memiliki usaha Lanting.
Kebetulan, bapak saya juga berasal dari Desa Lemahduwur. Beliau punya kerabat yang dulu pernah menjalankan usaha lanting. Bahkan, kakek dari pihak ibu saya juga pernah memiliki usaha lanting.
Jadi bisa dibilang, kegiatan bundel ini sudah melekat sebagai bagian dari masa kecil saya.
Waktu saya kecil, saya sering membantu Ibu saya bundel. Pagi-pagi sekali Ibu ambil satu box ukuran agak besar ke tempat pembuatan lanting lalu dibawa pulang untuk bundel di rumah.
Biasanya keluarga di rumah yang akan melakukan kegiatan bundel. Siang hari biasanya pekerjaan ini sudah selesai lalu diantar lagi ke tempat produsen untuk digoreng dalam skala besar, karena memang biasanya siang hari di tempat produksi sudah harus masuk tahap penggorengan sampai sore.
Jadi alurnya kira-kira begini:
Pagi ambil lanting mentah → dibawa pulang → dibundel → siang dikembalikan → digoreng → jadi lanting siap makan.
Selain dapat upah dari hasil pengerjaan bundel menjadi angka 8, para pekerja freelance ini biasanya akan mendapat sekantong lanting yang sudah matang dan masih hangat. Hal kayak gini udah jadi budaya yang lumrah di kalakangan pengrajin lanting. Asik kan? udah dapet duit eh dapat bonus juga.

Komentarnya dong. Kamu juga bisa komentar anonymously.