Beberapa waktu lalu saya mampir ke tempat wisata Gua Jatijajar yang ada di Kebumen. Sebagai orang yang tinggal nggak jauh dari Gombong, jujur saya agak malu. Bahkan ke wisata Benteng Van der wijck peninggalan jaman kolonial yang ada di Gombong pun saya belum pernah.
Gua Jatijajar ini udah jadi ikon wisata Kebumen dari zaman bapak ibu kita masih abg, tapi saya baru sempat main ke sini lagi setelah sekian lama. Terakhir ke sini kayaknya pas study tour SMP, itu pun yang diingat cuma patung dinosaurusnya doang wkwk.
Buat yang belum tahu, Gua Jatijajar ada di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Lokasinya di kawasan perbukitan kapur sebelah barat daya Kebumen, nggak terlalu jauh dari Pantai Logending dan Goa Petruk. Saya juga penasaran sama Gua Petruk, pengin merasakan pengalaman caving di sana. Kalau dari pusat Kota Kebumen Gua Jatijajar berjarak sekitar 40km an, sedangkan dari Gombong cuma sekitar 20km, kurang lebih setengah jam naik motor santai.
Rute yang saya ambil waktu itu dari Gombong lanjut ke arah selatan menuju Kecamatan Buayan lalu Ayah. Tinggal ikuti saja papan petunjuk arah "Goa Jatijajar", jalannya sudah aspal dan bisa dilewati mobil sampai bus pariwisata. Namun perlu berhati-hati ya guys jika lewat bukit banyumudal karena tikungan yang tajam. Selain itu jalannya jelek banyak lupang dan banyak tanjakan dan turunan lumayan curam.
Kalau dari arah Jogja atau Purworejo, bisa lewat jalur utama Kebumen sampai Gombong, atau lewat Jalur Lintas Selatan (Daendels) lalu belok ke arah Ayah. Buat yang naik kereta, turun saja di Stasiun Gombong, lalu lanjut pakai ojek online atau sewa kendaraan karena angkutan umum ke sini hampir nggak ada.
Baca Juga: Berburu Indahnya Sunset di Waduk Sempor Kebumen
Sampai di parkiran, suasananya adem karena banyak pohon. Area parkirnya luas, cukup buat motor, mobil, sampai bus. Dari parkiran kita jalan ke loket.
Nah, soal harga tiket masuk Gua Jatijajar terbaru, per Oktober 2026 tiketnya Rp15.500 untuk hari kerja dan Rp20.500 untuk akhir pekan. Harga itu belum termasuk parkir, jadi siapkan sedikit uang lebih. Gua Jatijajar buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Saran saya datang pagi, selain belum ramai, udara di dalam gua juga belum terlalu pengap.
Begitu masuk area gua, yang pertama menyambut tentu saja patung dinosaurus raksasa di depan mulut gua. Ini ikonik banget, hampir semua orang Kebumen pasti punya foto di depan dino ini, termasuk saya versi bocil dulu. Kali ini saya foto lagi di spot yang sama, ceritanya biar ada perbandingan before after. Bedanya, dulu yang tua dinonya, sekarang yang tua saya wkwk.
Masuk ke dalam gua, hawanya langsung beda. Lembap, sedikit dingin, dan ada suara gemericik air dari kejauhan. Lorong utamanya panjang sekitar 250 meter, lebarnya kira-kira 15 meter dengan langit-langit setinggi belasan meter, jadi nggak bikin sesak walaupun kita sedang berada di perut bukit kapur. Jalurnya sudah dibuat tangga dan jalan beton lengkap dengan lampu, jadi aman buat anak-anak maupun orang tua.
Yang bikin saya betah lama-lama di dalam adalah ornamen stalaktit dan stalagmitnya. Ada yang menyatu jadi pilar besar dari atas sampai bawah. Katanya proses terbentuknya cuma sekitar 1 milimeter per tahun. Bayangkan, pilar setinggi beberapa meter itu butuh ribuan tahun buat jadi seperti sekarang. Langsung merasa umur kita nggak ada apa-apanya.
Ngomong-ngomong soal sejarah, Gua Jatijajar ini ternyata ditemukan tahun 1802 oleh seorang petani bernama Djayamenawi. Ceritanya beliau sedang mencari rumput lalu terperosok ke sebuah lubang, yang ternyata adalah lubang ventilasi di langit-langit gua. Lubang itu masih bisa kita lihat sampai sekarang, cahaya matahari masuk dari atas dan bikin suasana di dalam gua makin dramatis. Baru sekitar tahun 1975 gua ini dibangun jadi objek wisata atas gagasan Gubernur Jawa Tengah saat itu, Soepardjo Roestam, mulai dari pemasangan lampu sampai tangga beton.
Di sepanjang lorong ada delapan diorama dengan total 32 patung yang menceritakan legenda Raden Kamandaka atau Lutung Kasarung, putra mahkota Kerajaan Pajajaran yang konon pernah bertapa di gua ini. Saya sempat berhenti di tiap diorama dan membaca keterangannya. Jujur, patung-patungnya agak bikin merinding kalau dilihat lama-lama di bawah lampu temaram, tapi justru di situ serunya.
Selain itu, di dalam gua ada tujuh sendang atau mata air, empat di antaranya cukup terkenal. Sendang Mawar dipercaya bisa bikin awet muda kalau kita membasuh muka dengan airnya, sementara Sendang Kantil dipercaya membawa keberuntungan agar cita-cita tercapai. Dua sendang lainnya, Sendang Jombor dan Sendang Puserbumi, masih dijaga kealamiannya dan dianggap sakral, jadi hanya bisa dikunjungi dengan pendampingan juru kunci.
Baca Juga: Healing di Mata Air Langen Ujung Buayan, Eh Kunci Motor Ikutan Healing
Satu hal yang perlu kalian tahu sebelum berkunjung, sejak 18 Agustus 2026 pengelolaan Gua Jatijajar diambil alih sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen, dan saat ini sedang disiapkan revitalisasi besar-besaran dengan target wisata kembali ramai pada 2027. Jadi wajar kalau beberapa fasilitas masih terlihat kurang terawat atau sedang dibenahi. Semoga setelah revitalisasi, Jatijajar bisa kembali seramai dulu, karena gua ini juga sudah masuk sebagai salah satu geosite Geopark Kebumen.
Beberapa tips dari saya kalau mau ke sini: pakai alas kaki yang nggak licin karena beberapa bagian lantai gua basah, bawa air minum, dan jangan lupa jaga kebersihan. Jangan corat-coret atau menyentuh stalaktit ya guys, butuh ribuan tahun buat terbentuk, masa rusak cuma gara-gara tangan iseng. Kalau masih ada waktu, sekalian mampir ke Goa Petruk atau Pantai Logending yang lokasinya berdekatan, jadi sekali jalan bisa dapat beberapa destinasi.
Overall, main ke Gua Jatijajar rasanya seperti nostalgia sekaligus belajar sejarah. Murah, dekat, dan masih menyimpan cerita yang bikin penasaran.
Pulangnya saya langsung cari makan di tempat makan sekitaran Jatijajar, karena jalan-jalan di dalam gua ternyata bikin lapar juga. Sepanjang jalan keluar kita akan melewati area pasar yang dipenuhi penjual mulai dari makanan ringan, kerajinan sampai merchandise khas Gua Jatijajar. Konsepnya mirip banget ketika Saya ke Candi Prambanan di Jogja, pintu keluar melewati pasar dan sepanjang perjalanan selalu ditawari apapun ketika melewati penjual.

Komentarnya dong. Kamu juga bisa komentar anonymously.